Taman Nasional Tesso Nilo

Seri Tumbuhan Obat Tesso Nilo (obat malaria)

Oleh

Andi Kusumo, S.Si, M.Si

PEH Balai Taman Nasional Tesso Nilo

Kawasan hutan merupakan salah satu sumber tumbuhan obat. Berbagai sumber menyatakan bahwa kawasan hutan tropis indonesia memiliki sekitar 30.000 jenis tumbuhan obat. Tumbuhan obat tersebut ada dari berbagai jenis pohon, perdu, liana dan terna. Sedangkan bagian tumbuhan yang digunakan diantaranya adalah kulit batang, akar, kayu, daun, bunga dan biji.

 

Tumbuhan obat merupakan tumbuhan yang memiliki khasiat obat yang digunakan sebagai obat dalam penyembuhan dan pencegahan penyakit. Tumbuhan tersebut berkhasiat obat  karena mengandung zat aktif yang dapat berfungsi untuk mengobati penyakit tertentu. Tumbuhan obat jika digunakan dengan tepat akan memberi efek menyembuhkan dengan tidak menimbulkan efek samping. Penggunaan tumbuhan obat sebagai pengobatan dilakukan dengan cara diminum, di tempel, untuk mencuci, dihirup dan lain sebagainya.

 

Berdasarkan survei yang dilakukan LIPI kawasan hutan tesso nilo merupakan kawasan hutan yang memiliki keanekaragaman yang tinggi. Kenaekaragaman tersebut diantaranya adalah kekayaan jenis tumbuhan yang tinggi. Beberapa diantaranya bahkan digunakan oleh masyarakat sebagai tumbuhan obat. Tumbuhan obat tersebut digunakan oleh masyarakat untuk pengobatan dan pemeliharaan kesehatan. Penggunaan tumbuhan obat tersebut digunakan masyarakat karena perolehannya yang cikup mudah, berkhasiat dan tidak memelukan biaya yang mahal

 

Masyarakat si sekitar kawasan tesso nilo memiliki kearifan lokal dan tradisi turun temurun dalam memanfaatkan tumbuhan obat. Beberapa diantaranya adalah tumbuhan yang digunakan untuk mengobati penyakit malaria. Tumbuhan-tumbuhan yang digunakan oleh masyarakat untuk mengobati penyakit malaria diantaranya:

a. Argyreia capitata ; nama lokal Aka bulu

  • Deskripsi tumbuhan : Merupakan tumbuhan belukar, dengan panjang 10 – 15 meter. Tumbuh di sekitar perkampungan, hutan lebat dan hutan terbuka.
  • Bagian yang digunakan: untuk obat malaria adalah daunnya.
  • Cara Penggunaan : Daun diremas dengan ditambahkan air, kemudian air remasan tersebut di usapkan ke tubuh penderita malaria.
Gambar 1. Argyreia capitata / aka bulu

b. Bridelia tomentosa ; nama lokal Kalimidei

Deskripsi tumbuhan: Merupakan Pohon dengan tinggi 8-20 meter dan diemeter batangnya 15-30 cm. Batang biasanya bengkok. Umumnya terdapat mulai dari pantai hingga pada ketinggian tempat 1.000 m dpl. Tumbuhan ini mengandung zat aktif metil salisilat dan friedelin.

–          Bagian yang digunakan : daun/pucuk

–          Cara penggunaan : dicampur daun aka bulu ditumbuk lalu diperas dan tambah air minum lalu diteteskan ke lidah dan lainnya diusapkan ke badan

Gambar 2. Bridelia tomentosa / kalimideic. Eurycoma longifolia ; nama lokal Patalo bumi

  • Deskripsi tumbuhan : Tumbuhan dapat mencapai ketinggian sehingga 10 meter di dalam rimbunan hutan dataran rendah. Biasanya, daunnya rimbun pada ujung batang. Kebanyakan pohon ini tidak bercabang, jika bercabang pun terlalu sedikit yaitu satu atau dua cabang saja. Bunganya tersusun padat pada tangkai yang bercabang, yang keluar dari pangkal daun.
  • Bagian yang digunakan: akar
  • Cara penggunaan : akar direbus dan airnya diminum
Gambar 3. Eurycoma longifolia / patalo bumi

d. Dicranopteris linearis ; nama lokal rosam, resam

  • Deskripsi tumbuhan: merupakan jenis paku yang besar yang biasa tumbuh pada tebing-tebing di tepi jalan di pegunungan. Tumbuhan ini mudah dikenal karena peletakan daunnya yang menyirip berjajar dua dan tangkainya bercabang mendua (dikotom). Tumbuhan ini dapat ditemukan di hampir semua daerah tropik dan subtropis di Asia dan Pasifik. Habitatnya adalah tebing teduh dan lembap mulai pada ketinggian 200m hingga 1500m di atas permukaan laut.
  • Bagian yang digunakan : daun
  • Cara penggunaan : daunnya campur daun rambutan (Nephelium lappaceum), daun durian (Durio zibethinus), diremas tambah air lalu diteteskan ke lidah 3 kali, daun diambil dengan tangan kiri lalu dihembuskan 3 kali ke ubun dan diusapkan ke badan.
Gambar 4. Dicranopteris linearis / rosam

 

 

 

 

Daftar Pustaka:

Badan Pusat Statistik, RI. 2011. Produksi Tumbuhan Obat-obatan di Indonesia tahun 2008-2012. Jakarta

Balai Penelitian Tumbuhan Obat dan Aromatik. 2007. Laporan Tahunan 2006.

Dalimartha, S. 2010. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia (Jilid II). Penerbit Trubus Agriwidya: Jakarta.

LIPI. 2003. Keanekaragaman Hayati di Tesso Nilo, Riau. Pusat Penelitian Biologi-LIPI. Bogor

Leave a Reply