TNTN, Maret 2025 – Dalam kondisi berpuasa dan menghadapi hujan deras, tim patroli Taman Nasional Tesso Nilo tak surut semangat menjaga hutan dari perambahan liar. Selama lima hari, 6-10 Maret 2025, mereka menyusuri wilayah rawan perusakan, dari Sialang Muluk hingga Pondok Kompeh, menghadapi tantangan dari cuaca hingga pelaku ilegal.
Hari pertama, tim menerbangkan drone untuk memastikan kondisi hutan di perbatasan wilayah. Hasilnya, tak ada aktivitas ilegal baru—bukti bahwa patroli rutin efektif dalam pencegahan. Namun, keesokan harinya, tanda-tanda perambahan mulai terlihat di daerah AM. Pondok-pondok liar terlihat mengisyaratkan perlunya operasi khusus.
Puncaknya terjadi pada 8 Maret, ketika tim menemukan lahan reboisasi yang disusupi tanaman sawit ilegal. Dengan sigap, mereka memusnahkan sawit dan menginterogasi seorang pekerja. Terungkap bahwa lahan ini diklaim oleh seorang warga luar yang berencana menanam sawit. Peringatan keras pun diberikan, menegaskan bahwa kawasan konservasi tak boleh disalahgunakan.
Perjuangan berlanjut saat hujan deras mengguyur pada 9 Maret. Tim tetap melanjutkan patroli hingga ke Lubuk Balai, memastikan lokasi bekas perambahan benar-benar ditinggalkan.
Hari terakhir, informasi tentang alat berat di dalam kawasan mendorong tim menuju Pondok Kompeh. Di tengah hujan, mereka menemukan ekskavator dalam kondisi rusak serta lahan yang telah dibuka. Pelaku menjanjikan akan mengeluarkan alat berat tersebut, namun tim tetap memberikan peringatan tegas.
Patroli ini membuktikan bahwa perjuangan menjaga TNTN dari perambahan liar tak mudah. Ke depan, upaya lebih besar diperlukan, termasuk operasi khusus untuk menertibkan area rawan. Hutan Tesso Nilo masih berjuang, dan para penjaganya tak kenal lelah.