TNTN, Februari 2025 – Di tengah lebatnya rimba Tesso Nilo, tim petugas tak kenal lelah menjalankan tugasnya. Dari 13 hingga 17 Februari 2025, Tim Patroli SPTN Wilayah II Baserah kembali menyusuri jalur hutan, menghadapi tantangan demi memastikan ekosistem tetap lestari.
Berbekal peta kerja, drone, alat komunikasi, dan tekad baja, tim yang dipimpin Kepala SPTN Wilayah II Baserah ini menyisir areal-areal rawan. Langkah pertama mereka membawa kabar baik—tanaman penghijauan (PE) tahun 2024 tumbuh subur, termasuk jengkol dan pulai yang mulai menghijaukan kawasan. Namun, tidak semua yang mereka temui menyejukkan hati.
Di areal lain, tim menemukan kerangka pondok liar yang baru dibangun. Tanpa ragu, mereka memusnahkan sisa-sisa bangunan tersebut, memastikan hutan tetap bebas dari aktivitas ilegal. Pemblokiran akses jalan juga dilakukan, diikuti dengan penanaman bibit untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem.
Ancaman lain pun terdeteksi dari udara. Drone yang diterbangkan mengungkap pembukaan lahan di beberapa titik, yang telah ditanami jengkol dan durian. Tak hanya itu, tanda-tanda keberadaan harimau sumatra terpantau. Jejak kaki, kotoran, serta bekas cakaran di tanah menjadi bukti bahwa sang raja hutan masih berusaha bertahan di habitatnya yang semakin terdesak.
Tak hanya berhadapan dengan aktivitas ilegal, tim juga melawan ekspansi sawit liar. Dengan tekad menjaga hutan tetap utuh, mereka memusnahkan sekitar 130 bibit sawit yang ditemukan di tiga lokasi berbeda. Plang peringatan pun dipasang di jalur patroli sebagai penegasan bahwa kawasan ini harus tetap terlindungi.
Di sela tugasnya, tim menyempatkan diri berdiskusi dengan kelompok tani di Desa Lubuk Kembang Bunga. Isu pengusulan Undang-Undang Cipta Kerja (UUCK) dan kemungkinan pendataan lanjutan menjadi bahan pembicaraan. Komunikasi ini penting untuk memastikan masyarakat memahami peran mereka dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Namun, perjuangan ini belum berakhir. Temuan aktivitas ilegal yang meningkat menegaskan perlunya patroli lebih intensif di wilayah tersebut. Di tengah kesunyian rimba, para penjaga ini tetap teguh. Bagi mereka, menjaga hutan bukan sekadar tugas, melainkan panggilan jiwa. Sebab, di setiap langkah yang mereka tempuh, ada harapan bagi alam yang terus berjuang untuk tetap hidup.