Taman Nasional Tesso Nilo

Misteri Belang Harimau Sumatera: Jejak Sang Raja Hutan

TNTN, Februari 2025 – Di hutan hujan tropis Sumatera yang rimbun dan misterius, ada sosok yang berjalan penuh wibawa di antara pepohonan. Belang hitamnya tampak kontras dengan dedaunan hijau yang menghampar. Dialah Panthera tigris sumatrae, harimau Sumatera—sang penguasa rimba yang kini berjuang melawan waktu.

Setiap harimau Sumatera memiliki pola belang yang unik, seperti sidik jari manusia. Tidak ada dua ekor harimau yang memiliki pola belang yang sama. Belang ini bukan sekadar hiasan alami, tetapi juga kunci bagi mereka untuk bertahan hidup di alam liar. Dengan belang yang menyerupai bayangan pepohonan, harimau dapat menyelinap tanpa terlihat oleh mangsanya—entah rusa, babi hutan, atau hewan lain yang menjadi santapan raja hutan ini.

Keunikan belang harimau Sumatera juga menjadi ciri khas yang membedakannya dari subspesies harimau lain di dunia. Pola hitamnya lebih rapat dan lebih banyak dibandingkan harimau Bengal atau Siberia. Inilah yang menjadikannya tampak lebih ‘garang’ dan lebih mudah beradaptasi dengan habitatnya yang lebat dan penuh rintangan.

Dalam budaya Indonesia, ada peribahasa yang berbunyi, “Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading.” Peribahasa ini bermakna bahwa seseorang akan dikenang berdasarkan perbuatan atau warisan yang ditinggalkannya. Namun, jika ditelaah secara biologis, harimau memang meninggalkan belangnya—setidaknya dalam bentuk kulit atau jejak DNA. Tetapi gajah? Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) tidak memiliki belang seperti harimau.

Kulit gajah umumnya berwarna abu-abu kusam dengan tekstur kasar. Tidak ada pola khas seperti halnya harimau. Lalu, mengapa peribahasa ini menyandingkan harimau dan gajah? Jawabannya terletak pada filosofi: harimau dan gajah adalah dua ikon megafauna Indonesia yang sama-sama berstatus langka dan berharga.

Sayangnya, belang harimau Sumatera yang begitu ikonik kini semakin jarang terlihat di alam liar. Hutan yang menjadi rumahnya terus menyusut akibat deforestasi, sementara perburuan liar tetap menjadi ancaman nyata. Populasi harimau Sumatera saat ini diperkirakan hanya tersisa kurang dari 600 ekor di habitat aslinya.

Namun, harapan belum sepenuhnya padam. Berbagai upaya konservasi terus dilakukan, mulai dari patroli anti-perburuan, rehabilitasi habitat, hingga program penangkaran. Di beberapa taman nasional seperti Tesso Nilo, Bukit Barisan Selatan, dan Kerinci Seblat, harimau Sumatera masih berjuang mempertahankan eksistensinya.

Saat kita berbicara tentang harimau Sumatera, kita tidak hanya membicarakan seekor kucing besar dengan belang yang indah. Kita berbicara tentang simbol alam liar Indonesia, tentang ekosistem yang rapuh, dan tentang masa depan yang sedang dipertaruhkan.

Jangan sampai suatu hari nanti, kita hanya bisa melihat belang harimau Sumatera dalam cerita dan foto lama—tanpa pernah lagi mendengar aumannya menggema di rimba Sumatera.

Sumber:

  • Wikipedia: Harimau Sumatera (id.wikipedia.org)
  • Indonesia.go.id: Kisah Si Belang dan Keturunannya
  • Antara News: Nasib Gajah Tinggal Gading, Harimau Tinggal Belang
  • Foto : kamera trap TN Tesso Nilo