Taman Nasional Tesso Nilo

Menjaga Keindahan Kincung: Warisan Alam Tesso Nilo yang Terancam

TNTN, Februari 2025 – Kabut pagi masih menyelimuti hutan Taman Nasional Tesso Nilo ketika suara burung berkicau bersahutan di antara rimbunnya pepohonan. Di tengah lebatnya vegetasi, mahout TN Tesso Nilo menemukan bunga merah mencolok dari tumbuhan kincung (Etlingera elatior) tampak menjulang di antara hijau dedaunan. Flora eksotis ini tidak hanya menjadi bagian dari lanskap hutan tropis, tetapi juga memiliki peran penting dalam ekosistem dan kehidupan masyarakat sekitar.

Bunga kincung, yang sering disebut sebagai kecombrang, memiliki daya tarik visual yang kuat dengan warna merah cerahnya. Namun, keistimewaannya tidak hanya terletak pada keindahannya. Kincung adalah penyedia makanan bagi berbagai serangga penyerbuk seperti lebah dan kupu-kupu, yang membantu proses regenerasi tumbuhan di hutan Tesso Nilo.

“Kami sering melihat lebah dan burung kecil mendekati bunga ini. Mereka seolah tahu bahwa kincung menyimpan banyak manfaat bagi mereka,” ungkap Eko, seorang Mahout atau perawat satwa TN Tesso Nilo

Selain sebagai penyedia makanan bagi fauna, sistem perakarannya juga berperan dalam menjaga kestabilan tanah. Dalam kondisi tertentu, kincung mampu mencegah erosi, terutama di daerah yang mulai mengalami degradasi akibat aktivitas manusia.

Bagi masyarakat sekitar TN Tesso Nilo, kincung bukan sekadar tumbuhan liar. Ia telah lama dimanfaatkan dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam kuliner tradisional. Sambal kecombrang dan gulai ikan berbumbu kincung menjadi hidangan khas yang diwariskan turun-temurun.

“Dulu nenek saya selalu mengajarkan kami cara memasak dengan kincung. Rasanya unik, sedikit asam dan wangi, membuat masakan jadi lebih sedap,” ujar Dessi, seorang warga Desa Lubuk Kembang Bunga yang hidup di sekitar TNTN.

Selain di bidang kuliner, kincung juga digunakan sebagai obat herbal. Masyarakat setempat meyakini bahwa tanaman ini memiliki sifat antibakteri dan antiinflamasi, yang berguna untuk mengobati luka atau meredakan demam.

Sayangnya, keberadaan kincung di Taman Nasional Tesso Nilo kini mulai terancam. Deforestasi yang semakin meluas akibat alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit mengancam habitat alami tanaman ini.

Perubahan iklim juga menjadi tantangan tersendiri. Pergeseran pola cuaca mempengaruhi pertumbuhan kincung, yang lebih membutuhkan kondisi lembap dan stabil untuk berkembang dengan baik.

Meski menghadapi berbagai tantangan, harapan tetap ada bagi kelestarian kincung di Tesso Nilo. Upaya konservasi mulai digalakkan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat lokal. Salah satu langkah penting adalah konservasi in-situ, yaitu dengan melindungi habitat asli kincung dan mencegah aktivitas ilegal di kawasan TN Tesso Nilo.

Di balik keindahan dan manfaatnya, kincung kini menghadapi ancaman serius akibat eksploitasi dan perubahan lingkungan. Namun, dengan kesadaran dan usaha bersama, flora unik ini masih memiliki peluang untuk terus bertahan dan memberikan manfaat bagi ekosistem serta masyarakat di sekitarnya. Keberadaan kincung di Taman Nasional Tesso Nilo bukan sekadar bagian dari alam, tetapi juga simbol keseimbangan antara manusia dan lingkungan yang harus dijaga bersama.