TNTN, 2025 – Di tengah hutan Sumatera yang rimbun, seekor anak gajah berjalan tertatih di samping induknya. Belalainya yang masih pendek mencoba menyentuh apa saja di sekitarnya, sementara sang induk dengan sabar mengawasi setiap gerakannya. Hubungan antara induk gajah Sumatera dan anaknya bukan hanya sekadar ikatan keluarga—ini adalah bentuk kasih sayang yang bertahan seumur hidup.
1. Kehamilan Terpanjang di Dunia Mamalia
Induk gajah Sumatera mengandung anaknya selama 22 bulan, menjadikannya salah satu masa kehamilan terlama di dunia mamalia. Saat lahir, bayi gajah memiliki berat sekitar 80 hingga 120 kg, tetapi masih sangat lemah dan bergantung sepenuhnya pada induknya.
2. Ibu yang Sabar dan Penuh Perhatian
Sejak hari pertama, induk gajah akan terus mendampingi anaknya. Ia memastikan anaknya belajar berjalan, menemukan sumber air, dan mengenali anggota kawanan. Ketika bayi gajah menangis—ya, mereka bisa menangis seperti manusia!—sang induk akan menyentuhnya dengan belalai untuk menenangkan.
3. Belajar dari Ibu dan “Bibi”
Menariknya, dalam kelompok gajah Sumatera, anak gajah tidak hanya diasuh oleh induknya tetapi juga oleh gajah betina lain dalam kawanan, yang sering disebut sebagai “bibi” atau allomother. Para bibi ini membantu menjaga, mengajari, dan bahkan menyusui anak gajah lain jika diperlukan.
4. ASI yang Bertahan Bertahun-Tahun
Bayi gajah Sumatera menyusu pada induknya selama 2 hingga 4 tahun, meskipun sudah mulai makan dedaunan sejak usia 6 bulan. ASI induk gajah mengandung nutrisi penting untuk pertumbuhan tulang dan perkembangan sistem kekebalan tubuh anaknya.
5. Induk yang Rela Berkorban
Ketika bahaya datang, induk gajah akan berdiri di barisan terdepan, melindungi anaknya dengan tubuhnya yang besar. Jika seekor anak gajah tersesat atau terjebak, seluruh kawanan akan membantu mencari dan menyelamatkannya.
6. Ikatan yang Tak Pernah Pudar
Hubungan antara induk dan anak gajah tidak berakhir saat anaknya tumbuh dewasa. Bahkan setelah mencapai usia remaja (sekitar 10 tahun), anak gajah tetap sering mendekati induknya dan menunjukkan kasih sayang dengan menyentuhkan belalainya. Betina akan tetap tinggal bersama induknya seumur hidup, sementara jantan biasanya pergi membentuk kelompok sendiri saat dewasa.
Gajah Sumatera bukan sekadar hewan besar di hutan. Mereka memiliki emosi, ingatan, dan kasih sayang yang begitu kuat, terutama dalam hubungan antara induk dan anaknya. Namun, dengan terus berkurangnya habitat alami mereka, gajah Sumatera kini menghadapi ancaman besar. Tanpa perlindungan yang serius, kita bisa kehilangan kisah luar biasa tentang kasih sayang ibu dan anak yang telah berlangsung selama ribuan tahun.
Sumber:
- Wildlife Conservation Society (WCS)
- WWF Indonesia
- Jurnal Elephant Maternal Behavior – National Geographic Research
- Laporan The Emotional Lives of Elephants – Cornell University